Model OSI

Model OSI
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Description: C:\DOCUME~1\aran\LOCALS~1\Temp\Rar$EX89.776\model referensi\model OSI_files\200px-OSI-DARPA-TCP.png
Description: C:\DOCUME~1\aran\LOCALS~1\Temp\Rar$EX89.776\model referensi\model OSI_files\magnify-clip.png
Hubungan antara OSI Reference Model, DARPA Reference Model danstack protokol TCP/IP
Model referensi jaringan terbuka OSI atau OSI Reference Model for open networking adalah sebuah model arsitektural jaringan yang dikembangkan oleh badan International Organization for Standardization (ISO) di Eropa pada tahun 1977. OSI sendiri merupakan singkatan dari Open System Interconnection. Model ini disebut juga dengan model "Model tujuh lapis OSI" (OSI seven layer model).
Sebelum munculnya model referensi OSI, sistem jaringan komputer sangat tergantung kepada pemasok (vendor). OSI berupaya membentuk standar umum jaringan komputer untuk menunjang interoperatibilitas antar pemasok yang berbeda. Dalam suatu jaringan yang besar biasanya terdapat banyak protokol jaringan yang berbeda. Tidak adanya suatu protokol yang sama, membuat banyak perangkat tidak bisa saling berkomunikasi.
Model referensi ini pada awalnya ditujukan sebagai basis untuk mengembangkan protokol-protokol jaringan, meski pada kenyataannya inisatif ini mengalami kegagalan. Kegagalan itu disebabkan oleh beberapa faktor berikut:
·         Standar model referensi ini, jika dibandingkan dengan model referensi DARPA (Model Internet) yang dikembangkan oleh Internet Engineering Task Force (IETF), sangat berdekatan. Model DARPA adalah model basis protokol TCP/IP yang populer digunakan.
·         Model referensi ini dianggap sangat kompleks. Beberapa fungsi (seperti halnya metode komunikasi connectionless) dianggap kurang bagus, sementara fungsi lainnya (seperti flow control dan koreksi kesalahan) diulang-ulang pada beberapa lapisan.
·         Pertumbuhan Internet dan protokol TCP/IP (sebuah protokol jaringan dunia nyata) membuat OSI Reference Model menjadi kurang diminati.
Pemerintah Amerika Serikat mencoba untuk mendukung protokol OSI Reference Model dalam solusi jaringan pemerintah pada tahun 1980-an, dengan mengimplementasikan beberapa standar yang disebut dengan Government Open Systems Interconnection Profile (GOSIP). Meski demikian. usaha ini akhirnya ditinggalkan pada tahun 1995, dan implementasi jaringan yang menggunakan OSI Reference model jarang dijumpai di luar Eropa.
OSI Reference Model pun akhirnya dilihat sebagai sebuah model ideal dari koneksi logis yang harus terjadi agar komunikasi data dalam jaringan dapat berlangsung. Beberapa protokol yang digunakan dalam dunia nyata, semacam TCP/IP, DECnet dan IBM Systems Network Architecture (SNA) memetakan tumpukan protokol (protocol stack) mereka ke OSI Reference Model. OSI Reference Model pun digunakan sebagai titik awal untuk mempelajari bagaimana beberapa protokol jaringan di dalam sebuah kumpulan protokol dapat berfungsi dan berinteraksi.
Description: C:\DOCUME~1\aran\LOCALS~1\Temp\Rar$EX89.776\model referensi\model OSI_files\200px-Osi-model-jb.png
Description: C:\DOCUME~1\aran\LOCALS~1\Temp\Rar$EX89.776\model referensi\model OSI_files\magnify-clip.png
Struktur tujuh lapis model OSI, bersamaan dengan protocol data unitpada setiap lapisan
OSI Reference Model memiliki tujuh lapis, yakni sebagai berikut
Lapisan ke-
Nama lapisan
Keterangan
7
Berfungsi sebagai antarmuka dengan aplikasi dengan fungsionalitas jaringan, mengatur bagaimana aplikasi dapat mengakses jaringan, dan kemudian membuat pesan-pesan kesalahan. Protokol yang berada dalam lapisan ini adalah HTTP, FTP, SMTP, danNFS.
6
Berfungsi untuk mentranslasikan data yang hendak ditransmisikan oleh aplikasi ke dalam format yang dapat ditransmisikan melalui jaringan. Protokol yang berada dalam level ini adalah perangkat lunak redirektor (redirector software), seperti layananWorkstation (dalam Windows NT) dan juga Network shell (semacam Virtual Network Computing (VNC) atau Remote Desktop Protocol (RDP)).
5
Berfungsi untuk mendefinisikan bagaimana koneksi dapat dibuat, dipelihara, atau dihancurkan. Selain itu, di level ini juga dilakukan resolusi nama.
4
Berfungsi untuk memecah data ke dalam paket-paket data serta memberikan nomor urut ke paket-paket tersebut sehingga dapat disusun kembali pada sisi tujuan setelah diterima. Selain itu, pada level ini juga membuat sebuah tanda bahwa paket diterima dengan sukses (acknowledgement), dan mentransmisikan ulang terhadp paket-paket yang hilang di tengah jalan.
3
Berfungsi untuk mendefinisikan alamat-alamat IP, membuat header untuk paket-paket, dan kemudian melakukan routing melaluiinternetworking dengan menggunakan router dan switch layer-3.
2
Befungsi untuk menentukan bagaimana bit-bit data dikelompokkan menjadi format yang disebut sebagai frame. Selain itu, pada level ini terjadi koreksi kesalahan, flow control, pengalamatan perangkat keras (seperti halnya Media Access Control Address (MAC Address)), dan menetukan bagaimana perangkat-perangkat jaringan seperti hub, bridge, repeater, dan switch layer 2beroperasi. Spesifikasi IEEE 802, membagi level ini menjadi dua level anak, yaitu lapisan Logical Link Control (LLC) dan lapisanMedia Access Control (MAC).
1
Berfungsi untuk mendefinisikan media transmisi jaringan, metode pensinyalan, sinkronisasi bit, arsitektur jaringan (seperti halnyaEthernet atau Token Ring), topologi jaringan dan pengabelan. Selain itu, level ini juga mendefinisikan bagaimana Network Interface Card (NIC) dapat berinteraksi dengan media kabel atau radio.

Contoh
Layer
OSI protocols
Contoh yang lain
#
Name
7
Application
6
Presentation
ISO/IEC 8823, X.226, ISO/IEC 9576-1, X.236
MIME, SSL, TLS, XDR
5
Session
ISO/IEC 8327, X.225, ISO/IEC 9548-1, X.235
Sockets. Session establishment in TCP,RTP
DLC?
4
Transport
ISO/IEC 8073, TP0, TP1, TP2, TP3, TP4 (X.224), ISO/IEC 8602, X.234
TCP, UDP, SCTP, DCCP
3
Network
ISO/IEC 8208, X.25(Packet-LaISO/IEC 8878,X.223, ISO/IEC 8473-1,CLNP X.233.
NBF, Q.931, NDP ARP (maps layer 3 to layer 2 address),IS-IS
2
Data Link
ISO/IEC 7666, X.25(LAPB), Token Bus, X.222, ISO/IEC 8802-2 LLCType 1 and 2[4]
Packet Data Convergence Protocol(PDCP),[5] LLC (Logical Link Control), MAC(Media Access Control)
1
Physical

Referensi
1.     ^ ITU-T Recommendation Q.1400 (03/1993), Architecture framework for the development of signaling dan OA&M protocols using OSI concepts, pp 4, 7.
2.     ^ ITU Rec. X.227 (ISO 8650), X.217 (ISO 8649)
3.     ^ X.700 series of recommendations from the ITU-T (in particular X.711), and ISO 9596

Pranala luar
·         (Inggris) ISO standard 7498-1:1994
·         (Inggris) Cybertelecom::Layered Model of Regulation

Konfigurasi Static Routing Pada Router Cisco

Routing statik yaitu routing yang  konfigurasinya harus dilakukan secara manual, administrator jaringan harus memasukkan atau menghapus rute statis jika terjadi perubahan topologi. Pada jaringan skala besar, jika tetap menggunakan routing statis, maka akan sangat membuang waktu administrator jaringan untuk melakukan update table routing. Karena itu routing statis hanya mungkin dilakukan untuk jaringan skala kecil. Sedangkan routing dinamis biasa diterapkan di jaringan skala besar dan membutuhkan kemampuan lebih dari administrator.
Cara kerja routing statis dapat dibagi menjadi 3 bagian:
- Administrator jaringan yang mengkonfigurasi router
- Router melakukan routing berdasarkan informasi dalam tabel routing- Routing statis digunakan untuk melewatkan paket data

Disini saya akan lebih menjelaskan hanya pada static routing saja.
Perhatikan topologi jaringan tersebut,
Terdapat 3 jaringan yang berbeda, yang sudah saya beri nama NETWORK A, NETWORK B, dan NETWORK C. disini saya menyediakan IP address dengan 3 kelas yang berbeda, IP address private kelas A (NETWORK A), kelas B (NETWORK B), dan kelas C(NETWORK C).
tugas kita disini adalah membuat setiap network tersebut bisa saling berkomunikasi.

Pada Network A | PC Hadi . memiliki
IP ADDRESS :  10.10.40.1 / 8
GATEWAY      :  10.10.40.255

Router Palembang ke switch:
IP ADDRESS  : 10.10.40.255

Pada Network B | PC Kurniawan memiliki
IP ADDRESS : 172.31.40.1/16
GATEWAY      : 172.31.40.255

Router Bogor ke switch:
IP ADDRESS : 172.31.40.255/16

NETWORK C
Router Palembang ke Bogor
IP ADDRESS : 192.168.40.1/24

Router Bogor ke Palembang
IP ADDRESS : 192.168.40.2/24

Setelah semua disusun sesuai topologi, anda tnggal memasukkan semua IP tersebut kemasing-masing perangkat.
Pertama settinglah IP addressnya PC Hadi dan PC Kurniawan

sekarang masuk kerouter Palembang, masuk ke tab CLI, masukkan konfigurasi berikut:
Router>en
Router#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.

Router(config)#hostname palembang

palembang(config)#interface fastEthernet 0/0
palembang(config-if)#ip address 10.0.40.255 255.0.0.0
palembang(config-if)#no shut


palembang(config-if)#exit
palembang(config)#interface fastEthernet 0/1
palembang(config-if)#ip address 192.168.40.1 255.255.255.0
palembang(config-if)#no shut

sekarang masuk kerouter Bogor, masukkan konfigurasi berikut:


Router>en
Router#conf t
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Router(config)#hostname Bogor




Bogor(config)#interface fastEthernet 0/0
Bogor(config-if)#ip address 172.31.40.255 255.255.0.0
Bogor(config-if)#no shut


Bogor(config-if)#exit
Bogor(config)#interface fastEthernet 0/1
Bogor(config-if)#ip address 192.168.40.2 255.255.255.0
Bogor(config-if)#no shut
 
setelah selesai, anda uji konektivitas terlbih dahulu, pada PC Hadi memlalui command prompt,

untuk melihat kesalahan anda, ujilah satu persatu:
coba anda cek konektivtas PC hadi dengan router palembang

PING 10.0.40.255
PING 192.168.40.1


jika balasan reply, maka koneksi tidak ada masalah.

sekarang uji dari PC kurniawan,
coba anda cek konektivitas PC kurniawan dengan router bogor.

PING 172.31.40.255
PING 192.168.40.2


jika balasan reply, maka koneksi juga tidak ada masalah.
masih dalam pc kurniawan, sekarang coba koneksikan kerouter palembang  dan ke PC hadi.

PING 192.168.40.1
PING 10.0.40.1


jika balasannya time out, dan destination host unreachable
berarti koneksi anda gagal. 
begitu sebaliknya dari PC hadi kerouter bogor dan PC kurniawan pasti akan gagal juga.
hal ini terjadi karena router bogor tidak bisa mengembalikan paket ping (protokol ICMP) ke alamat 10.0.40.1, dengan alasan router bogor tidak tau, begitu juga sebaliknya dengan router palembang tidak bisa mengembalikan paket ping pada alamat 172.31.40.1 dengan alasan router palembang tidak tau.

Oleh karena itu kita harus memberitahu Router, apabila ada network address melewati router melalui titik tertentu, jadi si router ini wajib meneruskan paket tersebut sampai tujuan. (ping harus sukses)

untuk itu anda harus melakukan setting terelbih dahulu pada router palembang.


palembang(config)#ip route 172.31.0.0 255.255.0.0 192.168.40.2

172.31.0.0 merupakan network dari PC kurniawan,
255.255.0.0 merupakan subnet masknya
192.168.40.2 merupakan IP dari router bogor

setelah itu masuk ke router bogor, masukkan konfigurasi berikut:

Bogor(config)#ip route 10.0.0.0 255.0.0.0 192.168.40.1

10.0.0.0 merupakan network dari PC hadi
255.0.0.0 merupakan subnet masknya
192.168.40.1 merupakan IP dari router palembang

sekarang uji konektivitas anda kembali,
antara komputer kurniawan ke komputer hadi
komputer kurniawan ke router palembang dan sebaliknya
jika balasan anda reply dan tidak ada masalah lagi, berarti anda telah berhasil menghubungkan semua jaringan :)

Konfigurasi Dynamic Routing

Cisco, siapa yang tidak kenal nama ini, apa lagi orang yang bergelut di bidang IT. Cisco adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang IT khususnya adalah hardware, walaupun sekarang sudah banyak mengeluarkan software. Produk unggulan dari Cisco sendri adalah router. Router Cisco terkenal handal dan stabil serta tahan lama. Banyak perusahaan besar yang menggunakan router ini untuk menghubungkan kantor-kantor cabangnya.
Routing sendiri adalah sebuah proses yang berguna untuk meneruskan paket-paket dari sebuah jaringan ke jaringan lainnya, dan biasanya routing ini dilakukan dengan menggunakan router. Pada tulisan ini saya tidak akan membahas tentang kelebihan dan kekurangan dari router Cisco, namun saya akan membahas bagaimana cara melakukan static routing dan dinamic routing dalam router Cisco, di mana untuk dinamic routing saya akan menggunakan protokol EIGRP (EIGRP akan dijelaskan nanti). Namun sebelum saya menjelaskan bagaimana melakukan konfigurasi static dan dinamic routing pada router Cisco ada baiknya saya sedikit memaparkan pengertian static dan dinamic routing serta kelebihan dan kekurangannya.
  1. Static routing adalah di mana seorang administrator melakukan routing secara manual. Mendefenisikan setiap network yang akan dihubungkan pada router-router yang akan digunakan.
  2. Dinamic routing adalah dimana administrator hanya melakukan sedikit konfigurasi (bisa dikatakan hanya mengaktifkan rule dinamic routing) pada setiap router yang akan dikomunikasikan, dan untuk kemudian router-router tersebut otomatis akan mendefenisikan network-network yang terhubung.
Beberapa kelebihan dan kekurangan dari static dan dinamic routing adalah sebagai berikut :
  1. Konfigurasi static routing memiliki kompleksitas yang bergantung pada jumlah network yang terhubung, sedangkan dinamic routing tidak, baik besar maupun kecil jumlah network yang akan dihubungkan, konfigurasi pada dinamic routing tetap sederhana.
  2. Jika terjadi pengubahan topologi, maka konfigurasi pada static routing (routing table) harus ditambah, dikurangi atau bahkan harus diubah keseluruhan, sedangkan pada dinamic routing tidak perlu adanya pengubahan pada konfigurasi routing (routing table).
  3. Static routing biasa digunakan pada jaringan dengan skala menengah kebawah, sedangkan dinamic routing biasa digunakan untuk jaringan sekala besar.
  4. Static routing memiliki tingkat keamanan yang baik, sedangkan dinamic routing tidak, karena jika ada seseorang yang menambakan sebuah router di dalam jaringan tersebut, maka router tersebut akan bisa langsung terkoneksi, dan hal itu bisa berbahaya.
  5. Static routing menggunakan sumber daya yang sedikit, baik itu processor, memori, maupun bandwidth, sedangkan dinamic routing menggunakan sumber daya lebih banyak.
Setelah mengerti pengertian, kelebihan dan kekurangan dari static dan dinamic routing, berikutnya akan saya paparkan contoh penerapan dari static dan dinamic routing menggunakan router Cisco. Pada tutorial ini saya menggunakan software Packet Tracert versi 5.3.0.0088.
Diatas terlihat sebuah simulasi jaringan antar kota yang menggunakan router untuk menghubungkan setiap kota. Pada router Medan dan Bali saya menambahkan sebuah modul yang bernama WIC-1T. WIC-1T adalah modul yang dipasangkan pada router Cisco yang digunakan sebagai port serial, sedangkan pada router Jakarta saya menambahkan 2 buah modul WIC-1T, karena router ini berada ditengah-tengah sehingga dibutuhkan 2 buah WIC-1T untuk menghubungkan 2 router lainnya. Berikut ini adalah konfigurasi dasar sebelum routing ditambahkan, baik static atau dinamic pada masing-masing router:
Router Medan:
Router>enable
Router#configure terminal
Router(config)#hostname MEDAN
MEDAN(config)#interface fastEthernet 0/0
MEDAN(config-if)#description TO-LAN
MEDAN(config-if)#ip address 192.168.1.254 255.255.255.0
MEDAN(config-if)#no shutdown
MEDAN(config-if)#exit
MEDAN(config)#interface serial 0/0/0
MEDAN(config-if)#description TO-JAKARTA
MEDAN(config-if)#ip address 10.10.1.1 255.255.255.252
MEDAN(config-if)#clock rate 64000
MEDAN(config-if)#no shutdown
MEDAN(config-if)#exit
MEDAN(config)#exit
MEDAN#copy running-config startup-config
Router Jakarta
Router>enable
Router#configure terminal
Router(config)#hostname JAKARTA
JAKARTA(config)#interface fastEthernet 0/0
JAKARTA(config-if)#description TO-LAN
JAKARTA(config-if)#ip address 192.168.2.254 255.255.255.0
JAKARTA(config-if)#no shutdown
JAKARTA(config-if)#exit
JAKARTA(config)#interface serial 0/0/0
JAKARTA(config-if)#description TO-MEDAN
JAKARTA(config-if)#ip address 10.10.1.2 255.255.255.252
JAKARTA(config-if)#clock rate 64000
JAKARTA(config-if)#no shutdown
JAKARTA(config-if)#exit
JAKARTA(config)#interface serial 0/1/0
JAKARTA(config-if)#description TO-BALI
JAKARTA(config-if)#ip address 11.11.1.1 255.255.255.252
JAKARTA(config-if)#clock rate 64000
JAKARTA(config-if)#no shutdown
JAKARTA(config-if)#exit
JAKARTA(config)#exit
JAKARTA#copy running-config startup-config
Router Bali
Router>enable
Router#configure terminal
Router(config)#hostname BALI
BALI(config)#interface fastEthernet 0/0
BALI(config-if)#description TO-LAN
BALI(config-if)#ip address 192.168.3.254 255.255.255.0
BALI(config-if)#no shutdown
BALI(config-if)#exit
BALI(config)#interface serial 0/0/0
BALI(config-if)#description TO-JAKARTA
BALI(config-if)#ip address 11.11.1.2 255.255.255.252
BALI(config-if)#clock rate 64000
BALI(config-if)#no shutdown
BALI(config-if)#exit
BALI(config)#exit
BALI#copy running-config startup-config
Dengan konfigurasi diatas koneksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
  1. Router Medan dapat berkomunikasi dengan router Jakarta
  2. Router Jakarta dapat berkomunikasi dengan router Bali
  3. Router Medan tidak dapat berkomunikasi dengan router Bali
  4. LAN Medan tidak dapat berkomunikasi dengan LAN Jakarta
  5. LAN Jakarta tidak dapat berkomunikasi dengan LAN Bali
  6. LAN Medan tidak dapat berkomunikasi dengan LAN Bali
Agar semua node bisa saling berkomunikasi maka dilakukanlah routing. Berikut adalah routing dari masing-masing router menggunakan static dan dinamic routing. Untuk menambahkan routingan (routing table), administrator harus masuk ke mode globar configuration nama-router(config)# dengan mengetikkan:
Router>enable
Router#configure terminal
Router(config)#
.
1. STATIC SROUTING
1.1   Router Medan
MEDAN>enable
MEDAN#configure terinal
MEDAN(config)#ip route 192.168.2.0 255.255.255.0 serial 0/0/0
MEDAN(config)#ip route 11.11.1.0 255.255.255.252 serial 0/0/0
MEDAN(config)#ip route 192.168.3.0 255.255.255.0 serial 0/0/0
Penjelasan:
MEDAN(config)#ip route 192.168.2.0 255.255.255.0 serial 0/0/0
Routing di atas digunakan agar:
  1. Router Medan bisa berkomunikasi dengan LAN Jakarta.
  2. LAN Medan bisa berkomunikasi dengan LAN Jakarta.
MEDAN(config)#ip route 11.11.1.0 255.255.255.252 serial 0/0/0
Routing di atas digunakan agar:
  1. Router Medan bisa berkomunikasi dengan router Bali
  2. LAN Medan bisa berkomunikasi dengan router Bali
MEDAN(config)#ip route 192.168.3.0 255.255.255.0 serial 0/0/0
Routing di atas digunakan agar:
  1. Router Medan bisa berkomunikasi dengan LAN Bali.
  2. LAN Medan bisa berkomunikasi dengan router Bali
1.2   Router Jakarta
JAKARTA(config)#ip route 192.168.1.0 255.255.255.0 serial 0/0/0
Routing di atas digunakan agar:
  1. Router Jakarta bisa berkomunikasi dengan LAN Medan.
  2. LAN Jakarta bisa berkomunikasi dengan LAN Medan.
JAKARTA(config)#ip route 192.168.3.0 255.255.255.0 serial 0/1/0
Routing di atas digunakan agar:
  1. Router Jakarta bisa berkomunikasi dengan LAN Bali.
  2. LAN Jakarta bisa berkomunikasi dengan LAN Bali.
1.3   Router Bali
BALI(config)#ip route 192.168.1.0 255.255.255.0 serial 0/0/0
Routing di atas digunakan agar:
  1. Router Bali bisa berkomunikasi dengan LAN Medan.
  2. LAN Bali bisa berkomunikasi dengan LAN Medan.
BALI(config)#ip route 10.10.1.0 255.255.255.252 serial 0/0/0
Routing di atas digunakan agar:
  1. Router Bali bisa berkomunikasi dengan router Medan.
  2. LAN Bali bisa berkomunikasi dengan router Medan
BALI(config)#ip route 192.168.2.0 255.255.255.0 serial 0/0/0
Routing di atas digunakan agar:
  1. Router Bali bisa berkomunikasi dengan LAN Jakarta.
  2. LAN Bali bisa berkomunikasi dengan LAN Jakarta.
Ingat, pada 1 router hanya bisa mendefenisikan jalan untuk paket keluar, namun jalan untuk paket masuk tidak bisa. Misalnya, melakukan ping dari LAN Medan ke LAN Jakarta, jika hanya pada router Medan yang dilakukan routing agar bisa menuju LAN Jakarta, ping tidak akan pernah berhasil, karena pada router Jakarta routing untuk menuju LAN Medan tidak ada, jadi paket tidak akan pernah dikirim kembali ke LAN Medan, sehingga ping akan RTO (Request Time Out). Itulah mengapa pada router Medan ada routing yang bertujuan untuk mengenalkan LAN Jakarta, dan begitu juga router Jakarta terdapat routing yang bertujuan untuk mengenalkan LAN Medan, itu dilakukan agar paket bisa pergi dan bisa pulang.
2. ROUTING DINAMIC MENGGUNAKAN PROTOKOL EIGRP
Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa routing dinamic bermanfaat untuk jaringan dengan skala besar, dimana routing dinamic bisa membuat kerja administrator menjadi sangat ringan. Walaupun biasanya digunakan dalam skala besar, namun bukan berarti routing dinamic tidak bisa digunakan dalam network skala kecil.
EIGRP (Enhanced Interior Gateway Routing Protokol) adalah salah satu protokol routing yang hanya bisa digunakan di router keluaran Cisco. Dimana protokol routing ini salah satu routing protocol terbaik yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  1. EIGRP hanya bisa digunakan pada router Cisco.
  2. EIGRP adalah lanjutan dari protkol IGRP.
  3. EIGRP adalah protokol routing dengan sifat Link State, dimana akan melakukan update apabila terdapat perubahan pada topologi jaringan yang mempengaruhi routing table.
  4. Maksimum hop pada EIGRP adalah 250, hop lebih banyak dari RIP yang hanya bisa menampung 15 hop.
  5. EIGRP menggunakan Autonomous System (AS). AS number Adalah nomor identifikasi yang menyatakan bahwa beberapa router berada dalam satu ruang lingkup yang sama sehingga akan bisa melakukan komunikasi. Jika AS number ini berbeda pada router satu dengan yang lainnya, maka router-router tersebut tidak akan bisa berkomunikasi.
  6. EIGRP mendukung VLSM (Variable Lenght Subnet Mask).
Untuk contoh konfigurasinya masih menggunakan contoh pada gambar di atas dimana konfigurasi dasarnya juga sama. berikut ini adalah konfigurasi dari EIGRP pada masing-masing router:
2.1 Router Medan
MEDAN>enable
MEDAN#configure terminal
MEDAN(config)#router eigrp 100
MEDAN(config-router)#network 192.168.1.0
MEDAN(config-router)#network 10.10.1.0
MEDAN(config-router)#exit
MEDAN(config)#exit
MEDAN#copy running-config startup-config
2.2 Router Jakarta
JAKARTA>enable
JAKARTA#configure terminal
JAKARTA(config)#router eigrp 100
JAKARTA(config-router)#network 192.168.2.0
JAKARTA(config-router)#network 10.10.1.0
JAKARTA(config-router)#network 11.11.1.0
JAKARTA(config-router)#exit
JAKARTA(config)#exit
JAKARTA#copy running-config startup-config
2.3 Router Bali
BALI>enable
BALI#configure terminal
BALI(config)#router eigrp 100
BALI(config-router)#network 192.168.3.0
BALI(config-router)#network 11.11.1.0
BALI(config-router)#exit
BALI(config)#exit
BALI#copy running-config startup-config
Bisa kita lihat di atas bahwa saya menggunakan 100 sebagai Autonomous System (AS) atau AS number. AS number ini bebas mau menggunakan berapa saja, yang penting sama antara satu router dengan router lainnya. Namun, jika sudah harus menghubungkan antara router di sebuah negara dengan router di negara lainnya, AS number ini tidak bisa digunakan sembarangan, ada sebuah badan yang mengurusnya, jadi kita harus menyewa AS number ini layaknya sebuah IP public.
Sampai di sini dulu sedikit penjelasan tentang static dan dinamic routing serta cara konfigurasinya, dimana pada dinamic routing saya menggunakan routing protokol EIGRP. Semoga tulisan saya ini bisa membantu bagi Anda yang sedang mempelajari routing, baik static maupun dinamic.

Sumber : http://kurniawanadam.wordpress.com/2011/07/27/konfigurasi-static-dan-dinamic-routing-menggunakan-protokol-eigrp-pada-router-cisco/
Write here, about you and your blog.
 
Copyright 2009 Aransyah P All rights reserved.
Free Blogger Templates by DeluxeTemplates.net
Wordpress Theme by EZwpthemes